Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Pelatihan Guru-guru Lintas Agama: “Penguatan Wacana Pengelolaan Keragaman dan Peningkatan Kompetensi Metode Pembelajaran Pendidikan Interreligius bagi Para Guru”

Muntilan, 23-24 April 2017 Masyarakat Indonesia umumnya sangat menekankan kehidupan religius. Untuk itu dibutuhkan upaya-upaya agar pendidikan agama-agama juga memberikan andil dalam memajukan pendewasaan kehidupan berbangsa dengan kesangupan mengelola perbedaan dalam masyarakat yang majemuk. Sayangnya banyak pendidik agama yang wawasannya hanya terbatas pada ilmu agama yang diampu dan sedikit minat untuk memberikan sumbangan pada penguatan kehidupan berbangsa dan bernegara . Atas dasar pemikiran ini kami, Paguyuban Penggerak Pendidikan Interreligius bermaskud menyelenggarakan pelatihan untuk para guru agama untuk menambah wawasan tetang keragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wawasan tentang dialog dan kesanggupan mengelola keragaman dan meningkatkan kemampuan dalam menumbuhkan kreatifitas dalam mengembagkan metode pembelajaran maupun evaluasi belajar. Sesuai dengan karakter paguyuban yang bersifat non formal dan bergerak menggunakan prinsip-prinsip

Meneguhkan Persaudaraan Muslim, Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Dialog Sunni, Syiah, Ahmadiyah

Kiri-Kanan: DR. Abdul Mu'ti, M.Ed (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah), Prof. DR. KH. Muhammad Machasin (Anggota Mu'tasyar PBNU), Maulana Abdul Basit, Shd (Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia), DR. Jalaluddin Rahmat (Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia), Listia (Moderator/PaPPIRus) Saling Sapa antarsaudara Peneguhan persaudaraan muslim, persaudaraan k eindonesiaan dan kemanusiaan akhir-akhir ini makin menghadapi banyak tantangan, terutama terkait persaingan politik kekuasaan di Indonesia maupun dampak globalisasi, kesenjangan sosial dan ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat. Tantangan ini mesti nya menuntun semua pihak untuk memandang ke dalam, untuk menghidupkan kembali ruh persaudaraan sebagai modal menghadapi berbgai tantanga n persoalan bersama. Adanya pengabaian terhadap praktek-praktek diskriminasi pada kelompok minoritas dan berkembangnya paham kebencian terhadap liyan menjadi potret kelam ketidakmampuan banyak