Langsung ke konten utama

PENTINGNYA PERUBAHAN PARADIGMA UNTUK MERAWAT RUH PENDIDIKAN

 

 

Catatan Moderator Seri 01

Program ‘NGOPII Yoo’ atau ‘Ngobrol Pendidikan Interreligius-Indoneisa dari Yogyakarta’, adalah perbincangan untuk masyarakat umum secara daring, yang diselenggarakan atas kerjasama Perkumpulan Pappirus, Rumah Kearifan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan Sanggar Anak Alam, setiap hari Rabu malam. Seri pertama Ngopii yoo pada Rabu, 11 Agustus 2021 mengangkat tema ‘Pendidikan yang Memerdekakan’. Banyak pemikiran berharga dalam perbincangan ini. Untuk itu moderator akan menyarikan gagasan-gagasan menarik di dalamnya untuk diunggah di laman pappirusindonesia.org

 


               

Kehidupan bermasyarakat mengalami perubahan sangat cepat, dampak dari perkembangan teknoliogi digital pada berbagai proses kehidupanbaik dalam pengorganisasian, komunikasi maupun proses produksi barang dan jasa. Bukan hanya pada level permukaan, perubahan juga terjadi dalam penghayatan nilai-nilai.

Menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke 76, sebagai bentuk rasa sukur, kegiatan bersama antarlembaga ini menjadi bentuk turut andil memikirkan upaya memperbaharui praktik pendidikan bagi generasi muda, agar tangguh dalam memperjuangakan kehidupan bersama di tengah berbagai tantangan.

            Pada Ngopi Yo seri 01 hadir narasumber Dr. Muqowim M.Ag fasilitator living values UNESCO, pendiri Rumah Kearifan dan  Ibu Sri Wahyaningsih, pendiri Sanggar Anak Alam di Nitiprayan Yogyakarta. Pada kesempatan ini, Listia sebagai moderator mengajukan pertanyaan tentang bagaimana pandangan para narasumber tentang praktik pendidikan di tengah perubahan sosial dan pandemi saat ini.

            Pak Muqowim berpandangan, para pengelola pendidikan terlalu fokus pada wilayah hilir dari sistem pendidikan. Misalnya  pada kurikulum, administras, sertifikasi, profil guru, gedung dan hal-hal teknis lain, bukan pada substansi atau ruh dari pendidikan,  sehingga ketika dihadapkan situasi disrupsi banyak yang kebingungan. Menurut dosen fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga ini, ‘ganti menteri ganti kurikulum’ mestinya tidak membingungkan bila ruh pendidikan terawat. Tapi bila substansi atau ruh pendidikan tidak dipegang, perubahan akan menimbulkan kesulitan. Andai yang menjadi fokus perhatian adalah wilayah hulu, yaitu substansi atau ruh pendidikan, berupa proses transformasi, optimalisasi potensi diri peserta didik, maka disrupsi dan semua perubahan teknis menjadi hal yang mudah diadaptasi.  

Situasi pandemi, di mana semua orang harus taat protokol kesehatan demi keselamatan bersama, secara tidak langsung membawa hikmah, yang mana penyelenggaraan  pendidikan didorong kembali pada ruh pendidikan. Proses pendidikan harus dikembalikan sebagai proses transformasi diri peserta didik dan upaya optimalisasi potensi diri, sehingga dapat menumbuhkan nilai kedamaian, cinta kasih, kebahagiaan, berdaya dan ketulusan. Ini semua dilakukan dalam keluarga, terutama karena menumbuhkan kesadaran nilai itu sangat efektif pada delapan tahun pertama usia manusia. Ketika pendidikan dikembalikan keluarga, maka pembenahan itu tidak cukup hanya dilakukan di lembaga formal yang hanya berkutat di wilayah hilir. Namun ketika keluarga juga tidak memahami atau kurang merawat ruh pendidikan, problem pendidikan menjadi lingkaran setan yang sulit diurai.

 Ibu Wahya melihat berbagai kesulitan dalam praktik pendidikan saat ini terjadi karena pemaknaan pendidikan yang bergeser dan dipersempit hanya pada urusan persekolahan. Tentu pendidikan lebih dalam dan lebih luas dari sekedar urusan persekolahan. Tujuannya adalah memanusiakan manusia. Pendidikan tidak boleh hanya mengasah intelektual, tetapi  seluruh potensi manusia harus dikembangkan secara utuh, dengan penuh kesadaran bahwa manusia tidak hanya otak tapi juga hati. Dengan mengutip pandangan Ki Hadjar Dewantara, Bu Wahya mengingatkan bahwa kepandaian dan kecerdasan baru merupakan sarana. Arah proses pendidikan adalah agar peserta didik kelak dapat memberikan kemanfaatan, kemaslahan bagi orang banyak, bukan untuk diri pribadi tapi untuk kehidupan bersama.

Bu Wahya menyampaikan konsep merdeka belajar dari Ki Hadjar Dewantara yang terdiri atas 3 pokok; pertama tidak terperintah, kedua berdiri di atas kaki sendiri, ketiga cakap mengatur dirinya sendiri. Proses belajar seharusnya dimulai dengan kemauan dari dalam diri siswa. Dengan persekolahan yang serba mengatur dan menyeragamkan, kondisi ini kurang menghargai talenta masing-masing anak yang beragam. Dalam sistem persekolahan saat ini penyeragaman ada dalam materi, cara belajar dan cara berfikir yang ditanaman pada peserta didik. Penyeragaman menyebabkan anak tidak mengenali potensi dirinya, bahkan banyak potensi menjadi tidak muncul. Padahal pendidikan harusnya memunculkan potensi, mendorong anak mampu menyadari diri dalam hubungan dengan  lingkungan alam, guru dan orang tua. Bagaimana menjadi merdeka bila semua diatur dan diseragamkan.

Pandemi mengingatkan kita bahwa pusat pengetahuan bukan hanya di sekolah, tapi pada diri, semesta, keluarga. Situasi ini mengembalikan rumah menjadi pusat pengetahuan, rumah sebagai ruang kasing sayang. Namun sering terjadi, di rumah orang tua tidak memberi kepercayaan pada anak. Banyak orangtua yang selalu mengarahkan, anak dianggap belum paham dan tidak dapat memilih. Banyak orang tua yang tidak memberi kepercayaan bahwa Tuhan telah memberi potensi pada semua mahluk yang akan tumbuh dan berkembang, terutama pada anak. Orang tua tidak berhak merasa lebih tahu tentang masa depan sehingga serba mengatur tanpa memberi kesempatan anak untuk berpendapat dan memilih. Maka perlu diperhatikan bahwa kunci pendidikan, yaitu ‘di mana ada hati, di situ ada proses belajar’. Dengan memberi hati anak dapat menemukan prinsip hidup dalam berelasi dengan sesama ciptaan. Orang tua perlu introspesi tentang bagaimana perannya.  

            Moderator bertanya pada Pak Muqowim, bagaimana realisasi pendidikan yang menyentuh hati  dalam praktik pendidkan kita yang  penuh aturan dan berlangsung bagai ritual formal tanpa kesadaran.  Dalam hal ini Para Pendiri Bangsa dalam lagu Indonesia Raya mengingatkan ‘..bangunlah jiwanya...’ terlebih dahulu, baru aspek formal atau yang bersifat lahiriah. Mengapa hal ini sulit direalisasikan  ?

Menanggapi hal ini Pak Muqowim berpendapat, yang penting dikedepankan seharusnya adalah ‘kesadaran Jiwa, buka kesadaran tubuh atau materi’, karena Inti pendidikan adalah pendidikan hati dan dari hati. Pendidikan harus menyentuh atau touching, bukan sekedar mengajar atau teaching.  Apalagi dengan kelas kejar tayang, meski materi selesai dibahas tetapi bila belum dapat menyentuh hati peserta didik, pendidikan ini belum mencapai inti, belum mengarah pada tarnsformasi diri. Padahal  soft skill sangat dibutuhkan untuk proses hidup jangka panjang, misalnya soffskill kemauan dan kesungguhan untuk belajar. Dengan memiliki kemauan belajar, materi akan mudah di kuasai, apalagi saat ini banyak sekali sumber belajar yang mudah di dapat melalui gawai. Bila yang dikejar adalah konten, pencapaian apa pun yang didapat, peserta didik selalu tertingggal, karena ilmu pengetahuan terus berkembang dan kehidupan terus berubah. Konten atau materi pelajaran mudah diselesaikan oleh teknologi, tapi tanpa softskill, peserta didik akan sulit berdaptasi dan menumbuhkan daya kratifnya.

Tentang pendidikan yang menyentuh hati, Bu Wahya menceritakan praktik metode pembelajaran berbasis riset di Salam. Menurut Bu Wahya, melalui metode riset, Salam memberi kesempatan pada peserta didik untuk memilih sendiri tema pembelajarannya. Dengan melibatkan partisipasi orang tua dalam pembelajaran, Salam menunjukkan sikap tidak mengambil hak asuh anak dari orang tua.  Salam mempunyai bagiannya dalam proses pendidikan, namun keluarga juga tetap punya porsinya sendiri. Kemudian bersama-sama menyepakati kurikulum yang akan dijalani. Jadi kurikulum di Salam sangat custom. Karena itu jumlah peserta didik di Salam sangat dibatasi.

Salam memposisikan diri sebagai fasilitator –yang di lingkungan Tamansiswa disebut Pamong, dan di sini fungsinya sama-- yang bersama peserta didik dan orang tuanya menyepakati kurikulum berdasarkan apa yang menjadi minat belajar anak. Dilengkapi dengan semboyan among ‘tutwuri handayani’, yang bermakna ‘dari belakang menguatkan’, menjadikan anak sebagai subyek. Anak dengan potensi yang dimilikinya adalah juga ‘maha guru bagi dirinya’. Dengan memberikan kepercayaan pada anak untuk memilih sendiri tema yang akan menjadi fokus risetnya, secara tidak langsung prosesn menumbuhkan rasa percaya diri anak. Ini tidak lain adalah praktik merdeka belajar yang memberi kemerdekaan pada peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi alamiahnya.

Dalam psikologi Ki Ageng Suryamentaram, dengan jiwa merdeka akan mengantarkan kita menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial atas kondisi kehidupan kita. Misalnya mengapa aku begini, mengapa situasi hidup bersama seperti ini, Indonesia kaya mengapa banyak orang miskin, Indonesia negara agraris mengapa  banyak impor pangan? Jiwa merdeka ini menuntun pada perenungan sehingga ada pencarian jawaban terus menerus tentang apa penyebab masalah dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan riset  anak menyalurkan rasa ingin tahu, menuntun pada eksplorasi dan eksperimen, sehingga menemukan pengetahuan, menjawab rasa ingin tahunya sendiri. Di sini anak menemukan pengetahuan, bukan diberi tahu. Dalam istilah jawa, pengetahuan secara sungguh-sungguh tahu atau ‘weruh atau ngaweruhi’, ini beda sekali dengan pengetahuan yang diberi dari orang lain.

Pak Muqowim menambahkan, kebiasaan pendidikan yang ‘memberi tahu’ atau transfer pengetahuan adalah kebiasaan belajar yang sudah tidak relevan dengan situasi jaman. Kebiasaan ini mengandaikan anak tidak punya potensi atau seperti bejana kosong. Padahal anak sudah dibekali Tuhan dengan berbagai potensi yang melekat di dalam. Kewajiban orang tua dan para pendidik adalah menumbuhkan potensi pada anak itu. Kebiasaan memberi tahu membuat anak atau peserta didik menjadi tergantung secara intelektual dan tidak mandiri dalam bersikap. Dalam praktiknya, pendidikan yang memerdekakan membutuhkan sinergi orang tua, lembaga pendidikan dan komunitas. Oleh karena itu, orang tua maupun para pendidik harus mengubah cara berfikir tentang anak dan mau belajar memahami serta mewujudkan hakikat pendidikan.

Ada beberapa peserta yang memberi tanggapan dalam obrolan seri 01 ini. Bu Kristina dan Pak Sunarno dari Kediri menyampaikan, banyaknya keluarga yang seperti lepas tangan pada sekolah untuk urusan pendidikan anak. Pertanyaannya bagaimana menumbuhkan sinergi tiga pihak; keluarga, lembaga pendidikan dan komunitas sekitar peserta didik, bila keluarga bersikap pasif.

Menanggapi pertanyaan ini Ibu Wahya menekankan perlunya lembaga pendidikan dan orang tua berdialog tentang peran masing-masing dan membangun saling memahami bahwa pusat-pusat pengetahuan itu selain di lembaga pendidikan juga di rumah. Karena  sistem persekolahan telah mereduksi pengertian masyarakat umum tentang makna pendidikan, banyak orangtua yang menjadi tidak percaya diri mendidik anaknya. Selain itu ada nilai-nilai yang bergeser menyebabkan banyak orang tua lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan karir sehingga tidak ada waktu untuk anak. Situasi ini berbeda sekali dengan jaman dulu dimana orang menghayati waktu tanpa tergesa-gesa meski teknologi belum berkembang seperti sekarang. Dalam hal ini para orang tua perlu menyadari bahwa yang mendapat amanah anak adalah mereka, bukan para guru atau orang arang lain.

Terkait upaya menumbuhkan peran orang tua, Bu Wahnya menambahkan di Salam juga dibuat kurikulum untuk orang tua dengan berbagai aktifitas. Misalnya ada kunjungan anak ke keluarga-keluarga untuk belajar tentang berbagai profesi.  Para orang tua secara bergantian menjadi fasilitator untuk mengambangkan pengetahuan anak tentang bermacam-macam profesi.  Ada yang jadi bakul jamu, pemandu wisata dan sebaganya. Para orang tua di Salam juga memiliki aktifitas bersama dalam kegiatan pasar yang diselenggaraka secara berkala.

Pak Agus Sudono sebagai penanggap kedua menyoroti para guru yang sangat sulit untuk mengubah mindset atau cara berfikir tentang proses pembelajaran. Meski kurikulum tahun 2013 sudah mengarahkan para pendidik untuk beranjak pada proses pebelajaran yang tidak lagi transfer pengetahuan, para guru tidak juga mengubah kebiasaan karena  pengandaian bahwa peserta didik layaknya bejana kosong ini. Senada dengan Pak Agus, Pak Sunarno juga menghadapai guru-guru muda lulusan perguruan tinggi dengan mindset yang menjadi keprihatinannya ini.  Artinya dari perguruan tinggi yang mendidik calon guru juga perlu ada perubahan.

Pak Muqowim menegaskan bahwa kurikulum tahun 2013 berupaya mengajak peserta didik belajar dari pengalaman langsung. Dalam kurikulum ini, peserta didik diminta untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ada disekitarnya, dengan cara mengamati, menanya, menganalisa, merumuskan dan mengkomunikasikan dengan bahasanya sendiri. Dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya akan masuk dalam longterm memory , menumbuhkan rasa ingin tahu lebih lanjut yang disitulah pengetahuan dan nilai-nilai yang dihayati para peserta didik makin berkembang. Untuk dapat mempraktikan hal ini, guru perlu mengubah kebiasaan. Pengalaman Salam menerapkan para praktik pembelajaran bukan dari definisi, tapi mengajak mengalami langsung, yang membuat anak merasa ini ‘gue banget’, belajar sesuai minat dan menemukan yang dicari.

Karena pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru, ruh pendidikan juga ada dalam keluarga. Untuk keterlibatan keluarga yang lebih baik, sebagaimana diharapkan, guru perlu mengajak orang tua untuk melakukan refleksi bersama. Steven Covey mengatakan, membaca tanpa refleksi seperti makan tanpa dicerna. Orangtua perlu menyadari, namun sekolah juga perlu memberikan penyadaran tentang ruh pendidikan yang harus dirawat dalam keluarga. Menurut Pak Muqowim, pelaku utama pendidikan tetaplah orang tua, sekolah hanya membantu. Ketika orang tua menyerahkan anak sepenuhnya padabaga pendidikan, ini memperlihatkan banyak orang tua ketika membangun rumah tangga tidak dengan kesadaran bahwa ada tanggung jawab mendidik anak.

Mengubah paradigma berfikir para guru dan orang tua perlu waktu. Pak Muqowim berpandangan, kebiasaan lembaga pendidikan yang terlalu mementingkan hal-hal administrasi telah melemahkan kebiasaan berefleksi. Dengan kurangnya refleksi, menyebabkan kurang bisa mengembalikan proses pembelajaran pada ruh pendidikan. Padahal bila mindset para guru dapat berubah, 60 persen problem pendidikan dapat teratasi.

Bu Wahya juga sependapat dalam hal ini, bahwa tidak mudah mengubah mindset atau paradigma. Guru dan orangtua perlu menyadari bahwa sekarang telah berkembang teknologi yang berfungsi sebagai kecerdasan buatan. Bila belajar hanya dengan cara hafalan, mesin google sudah jauh lebih pintar dari manusia,  mestinya proses pembelajaran bukan lagi tranfer pengetahuan. Sayangnya lembaga pendidikan calon guru juga belum berubah, sehingga ketika mahasiswa lulus proses mengajarnya tidak berubah, tetap menjadi petugas administrasi karena sertifikasi atau akreditasi sekolah. Ini sebenarnya beban-beban yang tidak ada korelasi dengan perkembangan siswa.

Bu Wahya meambahkan pendapatnya tentang pendidikan anak usia dini sebagai peletak dasar proses pendidikan berikutnya. Belakangan ini banyak anak diajari calistung. Praktik ini adalah salah besar dalam memahami proses tumbuh kembang anak. Usia anak adalah usia bermain, dan yang dimaksud literasi pada usia ini bukan berupa calistung. Yang dibutukan adalah kemampuan membaca makna, mengaktifkan penalaran dengan cara dibacakan buku, didongengkan, dikenalkan. Belajar dari mendengarkan, memahami, tahu, menceritakan kembali. Kebutuhan anak adalah bermain, sementara calistung membuat otak anak terbebani.

Bu Ayu dari Magelang menyoroti tidak bekerjanya teori-teori pendidikan yang dipelajari di bangku kuliah. Di lapangan ada banyak hal yang membuat teori-teori tentang pendidikan tidak berfungsi. Menangapi hal ini Pak Muqowim menjelaskan bahwa teori sesungguhnya hanya ancer-ancer saja. Dalam filsafat Ilmu,  menurut Thomas Kuhn, dalam konstruksi ilmu pengetahuan selalu ada dinamika. Teori yang awalnya revolusioner, kemudian menjadi hal yang biasa, dalam perkembangan seanjutnya teori mengalami anomali, krisis, dan melahirkan teori baru. Praktik pendidikan tidak tidak perlu terjebak dalam suatu teori.

Terkait peran orang tua dan pentingnya mengedepankan ruh pendidikan, Bu Anis menayakan pendapat para narasumber tentang boarding school. Menanggapi hal ini, Bu Wahya menyampaikan bahwa Ki Hadjar Dewantara pernah menyelenggarakan boardiang school atau yang disebut pondokan, dengan menjalankan fungsi pamongnya. Di sini pamong dapat menggantikan peran orang tua. Namun jaman berkembang terus. Sekarang dengan makin banyak orang tua yang teredukasi seharusnya bisa tetap menjalankan fungsi keluarga sebagai pusat pengetahuan dan ruang tumbuh kembang. Tapi bagi orang tua yang sangat sibuk mungkin boarding school dapat menjadi jalan keluar, sepanjang prinsip momong ini tetap ada.

Dalam hal ini Pak Muqowim lebih menyoroti apa peran utama boarding school. Bila 24 jam hanya fokus pada perkembangan otak dan urusan administrasi kependidikan, maka ini mungkin hanya semacam tempat menitipkan anak bagi keluarga-keluarga yang sibuk. Fungsi dalam keluarga yang tak tergantikan adalah ruang bagi  kasih sayang, merasa dipahami, dihargai dan bernilai. Dalam boarding school, satu orang pendidik menangani banyak anak. Apakah fungsi momong ini dapat berjalan?  Apakah peran-peran keluarga ini dapat dijalankan oleh para pendidik dalam boarding school?.Hal ini penting untuk menjadi bahan refleski, bahwa dalam lembaga tersebut ada plus minusnya, terutama ketika dihadapkan pertanyaan apakah ruh pendidikannya tidak hilang.  

Demikian pula dengan konsep pendidikan terpadu. Menggambungkan pendidikan umum dan agama, sesuatu yang biasa. Tapi jika tidak mencapai ruh pendidikan untuk manusia sebagai mahluk multidimensi dan menjadi manusia yang utuh, atau hanya pengembangkan sebagian kecerdasan atau potensi kemanusiaan saja, terutama ketika banyak menggunakan metode hafalan, maka ruh pendidikan tidak terawat. Perlu diperhatikan bahwa yang perlu diutamakan dalam pendidikan bukan jumlah waktu, tapi kualitas dalam menggunakan waktu. Dengan penggunaan waktu yang berkualitas,  peserta didik dapat diharapkan menjadi diri sendiri dan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya.

Dalam konteks peran komunitas, Pak Sunarno dari sekolah Ramadhani Kediri tahun dan Bu Sri Wartati dari sekolah Cerlang Pontianak memiliki pengalaman 10 Thun lebih mengelola pendidikan, sama-sama harus mengambil jalan tengah antara idealisme lembaga dan cara pikir yang berkembang dalam masyarakat. Menghadapi konteks masyarakat yang berbeda harus direspons berbeda agar sinergi tetap dapat dijalankan. Misalnya banyak orangtua terpengaruh dengan logika persekolahan yang masih menganggap penyeragaman sebagai kebutuhan. Di sini edukasi dan belajar bersama perlu terus dilakukan antara lembaga dan para orangtua.

Moderator menutup obrolan dengan menggaris bawahi bahwa realisasi pendidikan yang memerdekakan membutuhkan perubahan cara berfikir, baik tentang cara memandang dan berelasi dengan anak, konsep diri para pendidik dan para penyelenggara pendidikan yang harus mengutamakan substansi atau ruh pendidikan. Perbincangan ini akan dilanjutkan pada Ngopi Yo seri ke -2 pada Rabu, 25 Agustus 2021.

______________________

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Baru Pendidikan Toleransi di Indonesia

  Pandemi telah mengubah cara kerja masyarakat seluruh dunia. Semua pihak harus dapat beradaptasi dengan situasi penuh resiko ini agar tetap sehat dan semua aktivitas kehidupan dapat dilanjutkan. Demikian halnya dalam berbagai aktivitas pendidikan, selain harus mencari strategi yang aman dan efektif, juga harus tetap kreatif sehingga proses belajar mengajar berlangsung tanpa beban dan berdampak mencerdaskan.     Adaptasi Perkumpulan Pappirus terus mengupayakan pengembangan pendidikan keagamaan yang menumbuhkan kultur belajar yang memungkinkan tumbuhnya kesadaran menerima keragaman sebagai kodrat manusiawi dan mengajak para pendidik agar dapat membantu peserta didik mengembangkan sikap toleran serta mampu bekerjasama dengan orang yang berbeda latar belakang. Adaptasi dalam mengelola perkumpulan antara lain dengan migrasi kegiatan secara daring atau gabungan daring dan luring, sebagaimana dilakukan dalam Rapat Umum Anggota Perkumpulan ke-3, 25 April 2021 dan pertemuan Pengurus Periode ba

Diskusi Interreligius 1: Islam dan Kristiani Berdampingan, Persamaan dan Perbedaan Narasi Teologi

Catatan moderator dari diskusi Kajian Interreligius seri 1 Narasumber DR Suhadi Cholil dan Pdt. Herlina Ratu Kenya BOSA, 10 Februari 2017 Pra Diskusi Acara dibuka oleh pak Sartana, menyampaikan ucapan terimakasih atas dukungan Kepala Sekolah, memperkenalkan para narasumber, memnyampaikan rangkaian acara dan mempin doa sesuai keyakinan masing-masing peserta. Selanjutnya sambutan Kepala Sekolah SMA BOPKRI 1 oleh Bapak Andar Lukito. Beliau menyampaikan dirinya siap menjadi bagian dari gerakan ini dan berharap PaPPIRus terus bergema, tidak hanya dalam kelompok-kelompok kecil dalam diskusi-diskusi, karena sudah saatnya orang-orang baik bersuaran dan tidak diam demi masa depan NKRI. Sebelum diksusi dimulai, disampaikan pengenalan singkat tentang Paguyuban Pendidikan Interreligius (PaPPIRus) oleh Listia. Paguyuban Ini berawal dari perhatian pada pendidikan agama-agama di sekolah yang umumnya masih menggunakan ‘kaca mata kuda’ dalam melihat realitas yang majemuk, hanya bicara