Langsung ke konten utama

Buku Pendidikaan Agama Berwawasan Pancasila untuk Jenjang SMP dan Sederajat

 




Upaya mengembangkan wawasan keberagaman dan melatih kemampuan berdialog dan bekerjasama mengelaola keberangaman perlu dilakukan pada semua tahapan usia tubuh kembang. Usia siswa Sekolah Menengah Pertama adalah usia yang sangat penting, dalam pertumbuhan dan proses pencarian jati diri. Pendampingan yang memberi dukungan untuk memperluas wawasan maupun pergaulan yang luas sangat membantu dalam proses ini.

Dalam konteks kebangsaan, siswa usia Sekolah Menengan Pertama juga sudah mulai memasuki pergaulan sosial yang luas. Diharapkan pengelompokkan sosial yang berkembang tidak menyebabkan anak terjebak dalam eksklusivitas pola relasi in group -out group, atau yang membuat siswa gamang ketika memasuki pergaulan masyarakat yang majemuk.  Tidak hanya itu, pola relasi in group -out group menjadi cara pikir remaja, dapat memperburuk hubungan yang mengarah pada konflik termasuk dalam hal ini perilaku perundungan antarremaja.

Proses pembelajaran di sekolah adalah ruang yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mendampingi remaja untuk memenuhi tujuan memperkuat kompetensi di atas. Beberapa mata pelajaran memiliki Capaian Pembelajaran yang terkait langsung dan dapat dioptimalkan agar lebih berdampak bagi siswa. Pelajaran Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Ilmu Sosial Budaya, sejarah memiliki Capaian Pembelajaran yang dapat diturunkan menjadi tujuan pembelajaran dengan kompetensi memperluas pengalaman keberagaman, mengembangkan empati, solidaritas, toleransi dan kemampuan mengelola keberagaman.

Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius/Pappirus pada tahun 2026 ini telah dalam proses penerbitan buku untuk guru dengan judul utama Pendidikan Agama Berwawasan Pancasila untuk Jenjang SMP Sederajat. Buku ini ditulis dengan tujuan menyediakan buku sebagai sumber insipirasi bagi para guru untuk mengelola pembelajaran dengan memperkuat kompetensi yang sesuai dengan Capaian Pembelajaran pada Pelajaran yang diampu. Guru dapat menggunakan elemen-elemen yang ada dalam buku ini untuk menjadi topik pembelajaran yang akan dilakukan.

Buku ini terdiri atas empat bagian. Bagian pertama pendahuluan, menyediakan informasi tentang latar belakang pentingnya pengayaan untuk pendidikan agama dan keagamaan yang inklusif dan selaras nilai-nilai Pancasila. Pada bagian ini juga dijelaskan makna pendidikan agama berwawasan Pancasila, istilah lain dan implementasinya serta dasar hukum yang digunakan. Kedua, bagian elemen-elemen dalam Pendidikan Agama Berwawasan Pancasila dan tujuan pembelajaran untuk tiap elemen. Bagian ketiga buku ini menyediakan contoh-contoh modul ajar berdasarkan alur tujuan pembelajaran sesuai capaian pembelajaran untuk dikembangkan oleh pendidik sesuai dengan konteks lembaga pendidikan. Keempat menyediakan sumber informasi ajaran agama-agama yang diharapkan dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi lintas budaya dan agama bagi pendidik sehingga memperkuat semangat dalam menumbuhkembangkan karakter toleran dengan wawasan berkebinekaan global, bergotong-royong dan mengupayakan perdamaian bersama.

Melalui praktik pembelajaran dengan modul yang ada dalam buku ini, diharapkan dapat memicu semangat belajar sepanjang hayat bagi para pendidik, sehingga sebagai fasilitator dapat menyajikan proses pembelajaran yang menarik.  Dengan mempraktikan model pembelajaran ini guru diharapkan memperbaharui mindset agar lebih visioner dan terbuka serta memperkuat ragam kompetensi pendidik terutama dalam mengembangkan modul ajar dan teknik fasilitasi. Lebih jauh pendidik akan terdorong meningkatkan literasi keagamaan dari agama sendiri dan agama yang berbeda. Dengan demikian pembelajaran yang berlangsung membantu peserta didik makin mampu menjadi pribadi yang memiliki kesanggupan menjadi manusia Indonesia yang beradab ditengah perubahan sosial dan keberagaman yang makin berkembang.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Empati dan Perundungan pada Anak di Sekolah

  Pengantar Peristiwa anak melakukan burunuh diri karena mengalami perundungan terjadi kembali di Badung Bali ( 4 September 2025,Detik.com). Sebelumnya serentetan peristiwa perundungan terjadi di berbagai tempat, tidak hanya meninggalkan luka batin bahkan kekerasan fisik yang ditimbulkan menyebabkan kematian. Perundungan diakui sebagai salah satu dosa pendiddikan selain selain intoleransi dan kekerasan seksual. Menanggapi hal ini Kemdikbudristek mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 46 Tahun 2023 adalah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang mengatur tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Namun tindak kekerasan di satuan pendidikan hingga kini masih terjadi. Rustiadi dalam artikel di bawah ini membahas akar masalah berbagai bentuk kekerasan, yaitu krisis empati. Empati dan Pro-Eksistensi Setiap individu memiliki keunikan masing-masing yang membedakannya dari orang lain. Keberagaman ini mencakup aspek ...

Menjadi Manusia Indonesia yang Beradab Melalui Pendidikan Agama Berwawasan Pancasila

  Judul Buku: Menjadi Manusia Indonesia yang Beradab Melalui Pendidikan                                    Agama Berwawasan Pancasila Penulis: Listia, Anis Farikhatin, Poerwono Noegroho Adhi, Sartana Isi: 172 x 245 mm, vi + 164 hlm  Cetakan Pertama: Juli 2024 Penerbit: Pappirus Kemajuan dunia pendidikan suatu bangsa tidak dapat hanya mengadalkan upaya dan kebijakan pemerintah, namun membutuhkan kolaborasi seluruh warga bangsa sesuai kesanggupan masing-masing. Dengan mengungkap syukur pada pada Tuhan Yang Maha Esa, Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligus/Perkumpulan Pappirus dapat mempersembahkan kontribusi berupa buku kurikulum Pendidikan Agama Berwawasan Pancasila untuk jenjang SD, SMP dan SMA beserta contoh-contoh modul ajar yang diharapkan dapat menginspirasi guru mengembangkan pembelajaran kontekstual yang bermakna bagi para pserta didik. Selaras dengan pelaksanaan ...

Rapat Koordinasi Program PappiRus Antar Bidang

Pada tanggal 9-10 Mei 2024, telah dilaksanakan rapat koordinasi antar bidang pada Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius (Pappirus). Rapat yang dilaksanakan selama 2 hari tersebut untuk melakukan 2 pembahasan, pertama rapat program antar bidang, yang kedua rapat penyelesaian Buku Pengayaan PIR untuk SMP. Buku modul PIR untuk tingkat SMA telah terselesaikan dengan baik, Pappirus akan melajutkan penyusunan modul PIR untuk tingkat SMP.  Buku modul PIR tingkat SMP ini merupakan versi yang lebih sederhana dari Buku Modul PIR tingkat SMA. Namun keseluruhan isi masih mengacu pada elemen-element yang sama dengan modul PIR di tingkat SMA. Buku PIR ditargetkan akan selesai pada akhir Juni 2024.  Pembahasan kedua, yakni penyusunan program kerja yang akan dijalankan oleh Pengurus Baru Periode 2024-2026. Pembahasan program kerja diawali dengan penyamaan persepsi menganai apa yang ingin dicapai 2 tahun mendapat, kemudian disusun program kerja antar divisi. Pappirus sendiri memiliki...