Langsung ke konten utama

Ziarah Candi-candi di Yogyakarta; Menyibak Kebenaran Pengetahuan Sejarah dan Kearifan Lintas Zaman


                                               

                         (Lingga - Yoni di candi Kedulan Taman Martani)

Minggu, 20 September 2026, Pengurus Pappirus kembali menyelenggarakan  kegiatan Ziarah Peradaban Nusantara yang kali ini secara khusus dilakukan di 6 candi di wilayah kecamatan Prambanan kabupaten Sleman Yogyakarta. Sebagaimana kegiatan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, tujian penyelenggaraan kegiatan adalah untuk menambah wawasan sejarah peradaban di wilayah Nusantara dan merefleksikan pengetahuan tentang sejarah tersebut yang turut membentuk cara berpikir masyarakat hingga saat ini. Pada ziarah di candi Sambisari dan Kedulan, kami didampingi oleh Bapak Putu Sari,  dosen Sekolah Tinggai Agama Hindu Negeri Klaten Jawa Tengah. 

    Sebelum memasuki area candi Sambisari, Pak Putu menyampaikan gambaran kehidupan masyarakat saat sandi sandi ini dibangun  dengan keahlian dan kearifan budaya yang luar biasa. Menurutnya, bangnan bangunan candi menunjukkan penguasaan teknik yang melampaui jamannya. Hal ini dimungkinkan karena kerajaan Mataram Kuno atau kerajaan Medang, adalah Kerajaan yang Makmur, dengan kekayaan negara yang  dikelola dengan baik. Peradaban masa itu sangat religius, dalam pengertian masyarakat dan penguasa saat itu mementingkan nilai-nilai ketuhanan sehingga berhati-hati  dalam setiap perbuatan agar tidak menglahirkan karma buruk di kehidupan yang akan datang. Lebih lanjut Pak Putu menyebut tiga nilai yang dapat diumpamakan sebagai tripod yang saling menopang satu dengan yang lain. Tiga nilai tersebut adalah religiusitas, toleransi dan cinta.

        Keberadaan candi Sambisari dan Candi Kedulan yang ketika ditemukan terkubur tanah yang terjadi karena  aliran lahar letusan gunung Merapi, oleh karena itu bangunan berada di bawah permukaan tanah masa kini. Keberadaan ini secara tidak langsung mengingatkan kondisi lapisan tanah di pulau-pulau nusantara yang senantiasa bergearak memperbaharui diri. Letusan dahsyat gunung Merapi yang mengalirkan lahar menutupi wilayah di mana beberapa candi berada. Letusan dahsyat ini bahkan menyebabkan perpindahan pusat kekuasaan kearaan Mataram kuno ke wilayah timur, yang memudian memunculkan Kerajaan Kadiri. Dalam perjalanannya muncul pusat kekuasaan baru yaitu Kerajaan Panjalu, Kerajaan Singasari, hingga kerajaan Majapahit. Suatu penjelasan yang mengundang kesadaran kami tentang relasi manusia dengan alam semesta dan Tuhan.

         Satu pengalaman yang menarik kami saksikan ketika Pak Putu, meminta pengunjung di luar rombongan kami untuk melepas alas kaki saat hendak naik ke candi. Menjadi menarik karena selama ini masyarakat umum sering memperlakukan bangunan candi sekedar tempat wisata sejarah, bahkan hanya sebagai tempat foto-foto.  Semenetara bangunan ini bagi umat Hindu adalah bangunan suci, yang juga disebut juga sebagai Grha Syiwa atau rumah Tuhan. Bagi umat non Hindu, melepas alas kaki ketika memasuki tempat ibadah agama lain adalah adab sopan santun sebagai wujud toleransi, yaitu sikap menghormati apa yang dianggap suci oleh para penganutnya menghormati tempat ini. Masih berkaitan dengan menghormati apa yang disucikan oleh pihak lain adalah tentang patung. Pak Putu juga menjelaskan bahwa sebutan masyarakat untuk ‘patung’ di dalam area candi sesungguhnya tidak tepat, sebutan yang tepat  adalah arca. Edukasi tentang toleransi, semestinya menyinggung juga hal-hal konkrit seperti ini; tentang menghormati tempat yang dianggap suci oleh kalangan umat beragama dan berkepercayaan.

(Belajar dan memahami sebagai bentuk rasa hormat pada yang berbeda)

       Kami mendapat penjelasan tentang bagaimana konsep ketuhanan dalam agama Hindu, bahwa Sang Hyang Widi Wasa yang   memmiliki transformasi dalam tiga dewa dengan tugas masing-masing. Brahwa sebagai Pencipta, Wisnu sebagai Pemelihara dan Syiwa sebagai Pelebur. Hal baru yang kami temukan dalam penjelasan ini adalah tentang Syiwa sebagai pelebur. Ini informasi yang brbeda dari yang sering diterima masyarakat non Hindu di Indonesia selama ini. Penjelasan di buku-buku sejarah atau uraian tentang keberagaman agama bahwa Syiwa adalah Dewa Penghancur. Di sini kami mendapatkan klarifikasi. Sebutan 'Pelebur' dan 'Penghacur' tentu memiliki makna yang berbeda. Penghancur atau Perusak tidak memiliki makna dalam siklus keberlangutan, bahkan menimbulkan kebingunan bagi kalangan di luar umat Hindu, mengapa Tuhan sebagai Penghacur yang merusak?. Dengan informasi ini, kami menjadi mudah memahami bagaimana aumat Hindu menghayati konsep ketuhanan. Pelebur bermakna pembaharuan terkait siklus kehidupan sebagaimana penjelasan dalam ilmu fisika bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, adanya adalah transformasi. Dalam konteks Pelebur, benda benda di bumi dan mahluk hidup yang mati pada kenyataanya mengalami penguraian menjadi unsur-unsur alam kembali dan akan bertransformasi menjadi mahluk atau bentuk baru.

        Di candi Sambisari maupun candi Kedulan, konsep ketuhanan dihadirkan dalam simbolisasi lingga dan yoni. Simbolisasi yang menjelasan tentang kaitan yang sangat erat antara manusia sebagai mikro kosmos dan alam semesta sebagai makrokosmos dimana kuasa Tuhan sungguh-sungguh bekerja. Lanskap wilayah dimana candi-candi yang kami kunjungi berdiri menyajikan sibol hidup berupa ‘gunung’ dan patirtan atau mata air yang selalu terhubung, yang dalam keterhubungan itu kehidupan manusia tumbuh dan berkembang.  Kami mendapat pengalaman bagaimana umat Hindu ketika datang ke candi selalu disadarkan tentang adanya Bathara Kala, atau kuasa waktu yang diluar kemampuan manusia untuk mengatur sampai berapa lama masa tinggal di dunia. Dalam kesadaran ini hidup manusia dituntun untuk hormat dan cinta pada empat guru; di sisi utara terdapat arca Durga yang melambangkan aspek feminitas atau keibuan, arca Ganesha sebagai guru ilmu pengetahuan, di sisi delatan ada arca Rsi Agatya, guru spiritual yang membawa ajaran  Sanatana Dharma ke pulau dan guru aturan untuk konstitusi negara. Ada disinfromasi yang kami terima sebagai kalangan non Hindu tentang Durga. Gambaran tentang dewi Durga yang kami terima adalah perempuan yang ‘jahat’, ternyata ketika kami mendapat informasi dari sumber yang memiliki otoritas, Durga justru melambakkan aspek keibuan, kelembutan dan merawat, kebalikan dari yang kami pahami.

(Peradaban tumbuh dari pengetahuan dan kebijaksanaan)

        Dalam kunjungan di candi Kedulan di wilayah Taman Martani, (nama yang terhubungan dengan istilah tirta amarta). Candi ini  dipugar tahun 2018 ini. Di sini kami turut merasakan pengalaman interreligius saat merasakan apa yang disebut oleh umat Hindu sebagai melukat, bahwa sebelum menghadap pada Yang Maha Suci umat beragama perlu menyucikan diri yang disimbolisasi dengan air, air dengan energi kedamaian yang diambil dari petirtan. Di luar makna simbolik, praktik ini mirip yang dilakukan umat Islam lakukan saat berwudlu atau umat Katolik saat membasari sebagian kening ketika masuk gereja. Candi Kedulan menghadap ke arah matahari terbit, berkebalikan dengan candi Sambisari yang menghadap arah matahari tenggelam. Sebagaimana candi Sambisari di sini juga terdapat candi kendaraan yang didalamnya ada arca andhini, candi aghni tempat pemujaan pada api dan candi tempat pemujaan pada para leluhur. Saat menempatkan canang berisi bunga dan dupa, Pak Putu juga memberi penegaskan bahwa persembahan yang diberikan umat untuk di bawa ke candi tidak dimaksudkan untuk memberi makan pada para dewa, melainkan sebagi bentuk terimakasih dan cinta pada Sang Hyang Widi.

     
(Toleransi dalam rasa hormat pada apa yang dinilai suci oleh pihak lain)

“Tidak ada hal kebetulan di dunia ini, “, demikian ujar Pak Putu. ‘Pertemuan ini terjadi juga atas dukungan dari alam semesta juga “, lanjutnya. Perjumpaan dengan Pak Putu mengantarkan kami pada pengetahuan baru dan kebijaksanaan untuk senantiasa menjaga kesadaran yang luas tentang lehidupan. Misalnya tentang fungsi pohon yang oleh penanamnya kadang haya dipahami untuk peneduh, padahal sesungguhnya keberadaan pohon memberi ruang hidup bagi mahluk lain, bagi air yang terpelihara di bawahnya dan akar-akar pepohonan yang saling terhubung, saling menguatkan mewujudkan harmoi lingga dan yoni; bumi menumbuhkan, langit menghidupi.  

           Dari candi Kedulan di Tamanmartani, kami mengunjungi komplek candi Prambanan. Kami menyaksikan rumah ibadah Hindu dan Buddha yang berdampingan, menegaskan bahwa para leluhur nusantara telah terbiasa hidup dalam harmoni yang indah, tidak sekedar toleransi yang bermakna menahan diri rasa tidak suka, melainkan pro eksistensi, saling mendukung bagi keberadaan semua pihak yang berbeda-beda. Selain candi Prambanan yang megah, kami mengunjungi candi Lumbung, candi Bubrah dan candi Sewu yang menyisakan kemegahan 240 bangunan candi yang sebagian masih bertahan dengan indah hingga kini. Sebagaimana ditulis di atas, religioistas akan melahirkan toleransi dan membawa cinta serta perdamaian yang menjadi modal bagi kemajuan peradaban.

‘Tidak ada hal yang kebetulan’, Perjumpaan ini membekali banyak inspirasi bagaimana pendidikan interreligius, pendidikan keagamaan berwawasan Pancasila menjadi kebutuhan untuk terus dikembangan dan dipraktikkan bagia perdamaian pribadi maupun semesta. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru. (Disarikan dari refleksi para Pengurus) 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Empati dan Perundungan pada Anak di Sekolah

  Pengantar Peristiwa anak melakukan burunuh diri karena mengalami perundungan terjadi kembali di Badung Bali ( 4 September 2025,Detik.com). Sebelumnya serentetan peristiwa perundungan terjadi di berbagai tempat, tidak hanya meninggalkan luka batin bahkan kekerasan fisik yang ditimbulkan menyebabkan kematian. Perundungan diakui sebagai salah satu dosa pendiddikan selain selain intoleransi dan kekerasan seksual. Menanggapi hal ini Kemdikbudristek mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 46 Tahun 2023 adalah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang mengatur tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Namun tindak kekerasan di satuan pendidikan hingga kini masih terjadi. Rustiadi dalam artikel di bawah ini membahas akar masalah berbagai bentuk kekerasan, yaitu krisis empati. Empati dan Pro-Eksistensi Setiap individu memiliki keunikan masing-masing yang membedakannya dari orang lain. Keberagaman ini mencakup aspek ...

Menjadi Manusia Indonesia yang Beradab Melalui Pendidikan Agama Berwawasan Pancasila

  Judul Buku: Menjadi Manusia Indonesia yang Beradab Melalui Pendidikan                                    Agama Berwawasan Pancasila Penulis: Listia, Anis Farikhatin, Poerwono Noegroho Adhi, Sartana Isi: 172 x 245 mm, vi + 164 hlm  Cetakan Pertama: Juli 2024 Penerbit: Pappirus Kemajuan dunia pendidikan suatu bangsa tidak dapat hanya mengadalkan upaya dan kebijakan pemerintah, namun membutuhkan kolaborasi seluruh warga bangsa sesuai kesanggupan masing-masing. Dengan mengungkap syukur pada pada Tuhan Yang Maha Esa, Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligus/Perkumpulan Pappirus dapat mempersembahkan kontribusi berupa buku kurikulum Pendidikan Agama Berwawasan Pancasila untuk jenjang SD, SMP dan SMA beserta contoh-contoh modul ajar yang diharapkan dapat menginspirasi guru mengembangkan pembelajaran kontekstual yang bermakna bagi para pserta didik. Selaras dengan pelaksanaan ...

Rapat Koordinasi Program PappiRus Antar Bidang

Pada tanggal 9-10 Mei 2024, telah dilaksanakan rapat koordinasi antar bidang pada Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius (Pappirus). Rapat yang dilaksanakan selama 2 hari tersebut untuk melakukan 2 pembahasan, pertama rapat program antar bidang, yang kedua rapat penyelesaian Buku Pengayaan PIR untuk SMP. Buku modul PIR untuk tingkat SMA telah terselesaikan dengan baik, Pappirus akan melajutkan penyusunan modul PIR untuk tingkat SMP.  Buku modul PIR tingkat SMP ini merupakan versi yang lebih sederhana dari Buku Modul PIR tingkat SMA. Namun keseluruhan isi masih mengacu pada elemen-element yang sama dengan modul PIR di tingkat SMA. Buku PIR ditargetkan akan selesai pada akhir Juni 2024.  Pembahasan kedua, yakni penyusunan program kerja yang akan dijalankan oleh Pengurus Baru Periode 2024-2026. Pembahasan program kerja diawali dengan penyamaan persepsi menganai apa yang ingin dicapai 2 tahun mendapat, kemudian disusun program kerja antar divisi. Pappirus sendiri memiliki...